Sabtu, 22 April 2017

Biografi Nashiruddin At-Thusi




Nashiruddin At-Thusi



Nashiruddin Ath-Thusi dikenal sebagai  “Ilmuwan serba bisa“ (Multi talented). Julukan itu rasanya amat pantas ia sandang karena sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern yang tak ternilai besarnya. Selama hidupnya, ilmuwan Muslim dari Persia itu mendedikasikan diri untuk mengembangkan berbagai ilmu, seperti astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam.
Sarjana Muslim yang kemasyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja seperti Thomas Aquinas, memiliki nama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin Al-Hasan  Nashiruddin Ath-Thusi. Ia lahir pada tanggal 18 Februari tahun 1201 M / 597 H, di kota Thus yang terletak di dekat Mashed, sebelah timur lautan Iran. Sebagai seorang Ilmuan yang amat kondang pada zamannya, Nashiruddin memiliki banyak nama, antara lain: Muhaqqiq, Ath-Thusi, Khuwaja Thusi, dan Khuwaja Nasir.
Nashiruddin lahir pada awal abad ke 13 M, ketika itu dunia Islam telah mengalami masa-masa sulit. Pada saat itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis oleh tentara Mongol dengan sangat kejam. Oleh karena hilangnya rasa aman dan ketenangan itu membuat banyak ilmuwan sulit untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Nashiruddin pun tak dapat mengelak dari konflik yang melanda negerinya. Sejak kecil, Nashiruddin digembleng ilmu oleh ayahnya yang beprofesi sebagai ahli hukum di sekolah Imam Kedua Belas. Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, Ath-Thusi mempelajari Fiqih, Ushul, Hikmah dan Kalam, terutama Isyarat-nya Ibnu Sina, dari Mahdar Fariduddin Damad, dan Matematika dari Muhammad Hasib di Nishapur. Dia kemudian pergi ke Baghdad, di sana dia mempelajari ilmu pengobatan dan Filsafat dari Qutbuddin, Matematika dari Kamaluddin bin Yunus, dan Fiqih serta Ushul dari Salim bin Bardan.
Pada tahun 1220 M, invasi militer Mongol telah mencapai Thus dan kota kelahiran Nashiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Islamiyah ‘Abdurahim mengajak sang ilmuwan untuk bergabung. Tawaran itu tidak disia-siakannya, Nashiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat istana Islamiyah. Selama mengabdi di istana, Nashiruddin mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika, serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlaq-I Nasiri yang ditulisnya pada tahun 1232 M.
Hulagu sangat senang sekali ketika Nashiruddin mengungkapkan rencananya untuk membangun Observatorium di Maragha. Saat itu, Hulagu telah menjadikan wilayah Malagha yang berada wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada tahun 1259 M. Nashiruddin pun mulai membangun Observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada dan dapat kita jumpai sampai sekarang ini.  Observatorium Maragha mulai beroperasi pada tahun 1262 M. pembangunan dan operasional observatorium itu melibatkan serjana dari Persia dibantu astronom dari Cina. Teknologi yang digunakan di observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan dari Nashiruddin. Salah satunya yakni Kuadran Azimuth. Selain itu juga, beliau membangun perpustakaan di observatorium itu, koleksi buku-bukunya terbilang lengkap, yakni terdiri dari beragam Ilmu-ilmu pengetahuan. Di tempat itu, Nashiruddin tak cuma mengembangkan bidang astronomi saja, dia pun turut mengembangkan filsafat dan matematika.
Di observatorium yang dipimpinnya itu, Nashiruddin Ath-Thusi berhasil membuat tabel pergerakan planet yang akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab Zij-Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin observatorium Maragha. Selain itu Nashiruddin juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya yang berjudul At-Tadhkira fi’ilm Al-hay’a (Memoar Astronomi). Nashiruddin mampu memodifikasi model semesta apisiklus Ptolomeus  dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Nashiruddin meningal dunia pada tahun 672 H/1274 M dikota Baghdad, yang pada saat itu dibawah pemerintahan Abaqa (Pengganti Hulagu) yang masih mendapat dukungan sampai akhir hayatnya.

Karya-karya Nashiruddin Ath-Thusi
       Benar kalau dikatakan bahwa Ath-Thusi adalah seorang ulama yang menguasai berbagai bidang Ilmu, bukan hanya seorang filsuf semata. Hal itu terlihat dari berbagai disiplin keilmuan yang ditulisnya dalam bentuk buku atau kitab.
       Meskipun Ath-Thusi pandai dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan namun ia bukan seorang ilmuwan/filsuf yang kreatif sebagaimana filsuf dari Timur. Ia bukan termasuk ahli pikir yang kreatif yang memberikan gagasan-gagasan murni yang cemerlang. Hal ini tampak pada kedudukan ia sebagai pengajar gerakan kebangkitan kembali dan dalam karya-karyanya kebanyakan bersifat eklektis yakni bersifat memilih dari berbagai sumber. Tetapi meskipun demikian, ia tetap memiliki ciri khas tersendiri dalam menyajikan bahan tulisannya. Kepandaiannya yang beragam sungguh mengagumkan. Minatnya yang banyak dan berjenis-jenis mencakup filsafat, matematika, astronomi, fisika, ilmu pengobatan, mineralogi, musik, sejarah, kesusastraan dan dogmatik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar